Customer Service 1

085329990001 / 085726726001

infopusat@gmail.com

Yahoo! Messenger

 

Customer Service 2

085329990002 / 085726726002

infopusat2@gmail.com

Yahoo! Messenger

Keberagaman Kebudayaan Indonesia

Kemarin ini, saya menghadiri pernikahan seorang teman yang menyatukan dua kebudayaan yang berbeda: Jawa dan Sunda. Dalam sebuah pernikahan adat Jawa yang dihadiri oleh keluarga Sunda, terdapat beberapa perbedaan seperti cara berperilaku, cara bertutur kata, cara berpikir, cara menghadapi masalah, dan lainnya. Yang Sunda merasa tersinggung dengan sikap Jawa yang tidak berbasa basi, yang Jawa merasa aneh dengan Sunda yang terlalu banyak berbasa basi. Yang Jawa duduk tegap dan berbicara dengan bahasa yang dijaga, yang Sunda duduk santai sambil melontarkan gurauan ke orang tua. Yang Jawa memakai baju muslim, yang Sunda memakai kebaya dan celana jeans. Yang Jawa mengutamakan bibit, bebet, dan bobot, yang Sunda mengutamakan latar belakang materi seseorang. Kata orang Jawa, yang penting cinta dan kasih dari pasangan. Kata orang Sunda, materi itu penting karena perempuan butuh jaminan hidup dan tidak bisa naif hanya bermodalkan cinta.

Kemudian mereka saling mengumpat, "Dasar Jawa!" dan "Dasar Sunda!"
Hanya dua kebudayaan yang menghuni pulau yang sama saja, sudah ada pertengkaran kecil yang membawa nama budaya. Lalu apa kabar Indonesia yang konon katanya punya banyak kebudayaan? Saya teringat dengan beberapa isu etnis yang menjadi topik utama di media, salah satunya Sampit.

Etnik-etnik yang terpisah secara geografis dan sosial-budaya yang berbeda, mempunyai cara dalam mengembangkan pengalaman psikologis masing-masing, yang pada akhirnya menghasilkan identitas etnik masing-masing. Seperti yang sudah saya kemukakan di atas, pulau Jawa yang terdiri dari Jawa (Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, Solo, dan lainnya) dan Sunda (Priangan, Banten, Cirebon, dan lainnya) serta kelompok kecil seperti Madura dan Betawi saja sudah menimbulkan percekcokan.

Selalu ada prasangka yang diyakini benar dalam menilai orang lain. Ini disebut dengan stereotype. Dimulai dari gambaran seseorang tentang orang lain (personifikasi). Personifikasi adalah perasaan, sikap, dan konsepsi kompleks yang timbul karena mengalami kepuasan kebutuhan atau kecemasan. Personifikasi-personifikasi yang dimiliki sejumlah orang disebut stereotype. Ini adalah konsepsi yang diakui bersama, yaitu ide-ide yang diterima secara luas di antara anggota masyarakat dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Mengubah stereotype tidaklah semudah membalikkan telapak tangan karena ini sifatnya turun temurun dan mengakar di pikiran individu. Dan individu sadar akan hal itu, namun ia menyakini apa yang dipikirkannya itu benar. Apalagi jika orang lain berperilaku seperti stereotype yang ia akui, maka ia merasa dikuatkan. Hanya karena perilaku satu orang, ia menyamaratakan kepada golongannya.

Ambil contoh kasus besar yang sudah ada pertumpahan darah seperti kasus Sampit antara Madura dengan Dayak.

Proses saling sangka ini menghambat akulturasi bangsa, yang konon disebut Bhinneka Tunggal Ika (bagi saya, ini konon, karena sekarang sepertinya sudah diragukan keberadaannya). Pemerintahan Indonesia ketika orde baru meneriakkan semangat sama-rata-sama-rasa demi persatuan dan kesatuan. Bahkan slogan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Namun pasca reformasi, rupanya slogan Bhinneka Tunggal Ika hanya isapan jempol belaka karena untuk sebuah kebijakan penyeragaman oleh negara, sebuah sistem kehidupan masyarakat sengaja dipaksa dan diatur. Bahkan untuk penyeragaman, harus ada penduduk yang menjadi korban, dibantai dan kepalanya diarak keliling kota Sampit. Apalagi terkait kasus dengan Madura-Dayak, beberapa sumber mencetuskan bahwa awal mula konflik ini karena transmigrasi yang waktu itu dicanangkan oleh pemerintah agar adanya penyamarataan pembangunan di semua pulau.
Sebenarnya konflik etnis sudah ada dari era pemerintahan sebelumnya namun di era reformasi kecenderungan konfliknya lebih meningkat. Setiap konflik etnik pada masa Orde Baru relatif dapat diredam. Keberhasilan menumpas setiap konflik SARA di masa Orde Baru merupakan bagian integral dari upaya mewujudkan “keamanan dan ketertiban umum” bagi seluruh lapisan masyarakat di seluruh bagian Nusantara. Ini adalah strategi utama yang diterapkan bagi rezim otoriter. Pada era reformasi, konflik bernuansa etnis/kedaerahan dan agama meningkat. Hal ini lebih disebabkan akumulasi ketidak-adilan dalam proses politik dan distribusi kekuasaan serta ketidakadilan dalam menikmati hasil pembangunan.

Dalam kasus Madura-Dayak, rupanya penduduk Madura lebih unggul satu langkah daripada orang Dayak di sektor informal sehingga menggusur penduduk asli keluar dari pekerjaannya. Sebenarnya mereka tidak unggul - seperti kriteria Nietzsche bahwa seseorang yang unggul harus memiliki kecerdasan, kekuatan, dan kebanggaan - karena dalam kecerdasan, mereka sama-sama rendah. Rupanya orang Madura yang dahulu menjadi pekerja kasar dan menderita, kini bisa lebih sukses. Ini hampir serupa dengan filsuf yang dikagumi Nietzsche – Schopenhauer – yang mempunyai pandangan ‘Orang bijak menarik hikmah dari kepedihan, bukan dari kesenangan.’ Jika Indonesia melihat ini sebagai permasalahan, tetapi tidak bagi Nietzsche karena menurutnya memang seperti itulah kehidupan yang tidak menentang kodrat alam. Di dalam hidup ini yang kuatlah yang akan menang, kebajikan utama dalam kehidupan adalah kekuatan. Permasalahan Madura-Dayak bukanlah harus diselesaikan dengan jalan perundingan, pemungutan suara, tetapi melalui darah dan baja.

Bahkan, mungkin sebelum konflik terjadi, Nietzsche sudah tidak setuju dengan slogan Bhinneka Tunggal Ika karena menurutnya slogan ini hanya untuk orang-orang yang ingin bersaing, meskipun meminta perlindungan diatas haknya. Dan slogan ini tidak akan menghasilkan pemimpin yang agung. Selain itu, kritiknya mengenai kesetaraan adalah konsep ciptaan manusia yang palsu dan ujung-ujungnya merusak itu benar karena pasca reformasi banyak bermunculan konflik etnis seperti Ambon dan Poso.

Dayak sebagai penduduk lokal yang menghargai hukum adatnya. Hukum adat memegang peranan penting bagi orang Dayak. Tanah yang mereka miliki adalah warisan leluhur yang harus mereka pertahankan. Mengikuti teori Nietzsche, jika orang Dayak sungguh-sungguh hendak menjadi pencipta, haruslah lebih dahulu menunjukkan keberaniannya untuk memusnahkan nilai-nilai lama. Seseorang harus terlebih dahulu menihilkan segala nilai lama dan mempersetankan segala nilai yang sudah mantap karena nilai-nilai lama hanya akan menghalangi untuk mencipta.

Tapi, itu menurut pandangan Nietzsche. Jangan salah mengartikan untuk menghalalkan yang namanya peperangan. Entah setuju atau tidak, ini bisa dijadikan pengetahuan.
Semoga Bhinneka Tunggal Ika masih tetap ada.